A. Latar Belakang
Sebelum melakukan kegiatan berdakwah dalam lngkungan masyarakat, hendaknya
kita mengetahui struktur dan karakter masyarakat yang akan kita jadikan objek
dakwah, dalam sistem bermasyarakat ada istilah stratifikasi, kasta, atau juga
sering disebut kelas sosial, keadaan masyarakat yang sedemikian rupa
membutuhkan perencanaan yang matang, karena stratifikasi sosial sangat
berpengaruh terhadap interaksi sosial dan komunikasi antar individu dan antar
antar kelompok,
Sebagai seorang dai haruslah selalu bersemangat dan bersungguh sungguh
dalam dalam berdakwah pada berbagai situasi dan kondisi, suatu keadaan dan
sepanjang masa dan jugaketika mereka berdakwah mengajak sekalian manusia pada
jalan Allah serta taat kepada-Nya dengan perkataan maupun perbuatan untuk
mencari keridaan Allah SWT, dari sini kami akan menjelaskan tentang Dakwah dan
Stratifikasi Sosial
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dakwah dan stratifikasi
sosial ?
2. Bagaimana stratifikasi menurut agama islam ?
3. Apakah unsur-unsur stratifikasi ?
4. Bagaimana konsekwensi dari stratifikasi ?
5. Bagaimana strategi dakwah dalam masyarakat
yang terstratifikasi ?
II.
PEMBAHASAN
A.
Konsep Dakwah dan Stratifikasi
Dalam bahasa al-qur’an, Dakwah terambil dari kata : يدعؤدعى , yang artinya lughawi (etimologi) memiliki
kesamaan makna dengan kata al nida (
النداء ) yang berati menyeru atau memanggil. Di tinjau
dari aspek terminologis pakar dakwah Syekh Ali Mahmuf mengartikan dakwah dengan
mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk Allah SWT, menyeru mereka kepada
kebiasaanyang baik dan melarang mereka dari kebiasaan buruk supaya mendapatkan
keberuntungan di dunia dan di akhirat. Dakwah
yang di maksud, Ali Mahfuz lebih dari sekedar ceramah atau pidato, walaupun
memang secara lisan dakwah dapat di identikan dengan keduanya. Dakwah juga
dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk memotivasi orang dengan basirah, supaya menempuh jalan Allah SWT
dan meninggikan agamanya. Dakwah Islam adalah dakwah basirah, maknanya berarti
dakwah yang disebarluaskan dengan cara damai dan bukan dengan kekerasan, serta
mengutamakan aspek kognitif (kesadarn intelektual), dan afektif (kesadaran
emosional). Dakwah demikian ini, lebih lanjut disebut sebagai dakwah persuasif
(membujuk).
Menerjemahkan dakwah agar dapat di pahami dari pelbagai sisi ilmiah
dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan dua hal, doktrin dan sejarah Islam. Dari segi doktrinal, Islam mengklaim sebagai agama universal yang
melampaui sekat-sekat keyakinan, teritorial, maupun ras kemanusiaan. Adapun
dari segi historisnya di peroleh sederet fakta sejarah mengenai transmisi Islam
baik secara kultural maupun politik. Baik paradigma doktrinal dan historis
dalam relevansinya dengan dakwah adalah sebagai dasar analisis fenomena
sosialisasi Islam yang menjadi idiom utama dakwah. (A.Ilyas Ismail, dan Prio
Hotman.2011:27)
Stratifikasi sosial berasal dari kiasan yang menggambarkan keadaan kehidupan
masyarakat manusia pada umumnya, menurut
petirim A. Sokorin, bahwa stratifikasi sosial (social stratification) adalah
pembedaaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat (secara
hierarkis). Perwujudan adalah adanya kelas-kelas
tinggi dan kelas yang lebih rendah. Selanjutnya sorokin menjelaskan dasar dan inti lapisan-lapisan dalam
masyarakat adalah karena tidak ada keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan
kewajiban-kewajiban, kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial
dan pengaruhnya diantara anggota-anggota masyarakat. Lapisan-lapisan dalam
masyarakat itu ada sejak manusia mengenal kehidupan bersama dalam masyarakat.
Mula-mula lapisan-lapisan didasarkan pada pembedaan jenis kelamin, perbedaan
antara pemimpin dengan yang dipimpin, pembagian kerja dan sebagainya. Semakin
kompleks dan majunya pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat, maka sistem
lapisan-lapisan dalam masyaralat akan semakin kompleks pula.
Dalam kehidupan
masyarakat biasanya selalu terdapat perbedaan status antara orang satu dengan
yang lainya, antara kelompok satu dengan kelompok lainya. Menurut konsep status
sosial, bahwa didalam sekelompok masyarakat tertentu pasti di dalamnya terdapat
beberapa orang yang lebih dihormati daripada orang lainya.
Menurut soerjono soekanto (1982), selama dalam suatu masyarakat ada sesuatu
yang dihargai, dan setiap masyarakat mempunyai sesuatu yang dihargai, maka hal
itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem berlapis-lapisan
dalam masyarakat itu. Barang sesuatu yang dihargai didalam masyarakat itu
mungkin berupa uang atau benda-benda yang bernilai ekonomis, mungkin juga
berupa tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan dalam beragama atau
mungkin juga keturunan dari keluarga yang terhormat. Hassan Shadily mengatakan bahwa pada umumnya lapisan dalam
masyarakat menunjukan :
1. Keadaan senasib. Dengan paham ini kita mengenal lapisan yang
terendah, yaitu lapisan pengemis, lapisan rakyat dan sebagainya.
2. Persamaan batin ataupun kepandaian: lapisan terpelajar dan
sebagainya.
Menurut Petirim
A. Sokorin, bahwa sistem berlapis-lapis itu merupakan ciri yang tetap dan umum
dalam setiap masyarakat. Bagi siapa saja yang memiliki sesuatu yang dihargai
atau dibanggakan dalam jumlah yang lebih
daripada yang lainya, maka ia akan dianggap mempunyai status dalam
masyarakat yang lenih rendah. Bagi
sesorang yang memiliki status, baik yang rendah maupun yang tinggi, sama-sama
mempunyai sifat kumulatif; artinya bagi mereka yang mempunyai status ekonomi
yang tinggi biasanya relatif mudah ia akan dapat menduduki status-status yang
lain, seperti status sosial, politik ataupun kehotmatan tertentu dalam
masyarakat. Begitu juga bagi mereka yang sedikit mempunyai status atau mereka yang
tidak mempunyai sama sekali sesuatu yang di banggakan, biasanya mereka
cenderung akan semakin sulit untuk dapat naik status, atau bahkan dapat
dikatakan seorang yang miskin cenderung semakin menjadi-jadi kemiskinanya.
Mengenai bentuk-bentuk konkret dari stratifikasi sosial dalam masyarakat,
pada prinsipnya dapat dibedakan menjadi tuga macam, yaitu kelas ekonomi,
politik dan sistem nilai yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat tertentu. (Abdul syani. 1994: 82-84)
B.
Statifikasi
Menurut Islam
Surat An-Nisaa’
telah menetapkan prinsip persamaan tersebut secara jelas dan tegas, dan
mendasarkan perubahan masyarakat pada prinsip tersebut. Surat An-Nisaa’
mengawali ayatnya dengan menjelaskan prinsip tersebut di mana secara tegas
dikatakan:
$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`Í‘ #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4
(#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur 4
¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘ ÇÊÈ
“hai sekalian
manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang
satu, dan dari padanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang
banyak. Dan bertakwalah
kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim sesunguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (Qs. An-Nisaa’ 4:1)
Semua manusia
diletakkan pada posisinya secara alami jika dinisbatkan kepada tuhan yang maha
pencipta dan yang berhak disembah. Peletakan yang demikian telah memposisikan
manusia pada posisi yang sama, di mana seseorang diantara mereka tidak ada
bedanaya dari yang lainnya, suatu bangsa tidak ada bedanya dari bangsa yang
lainnya, suatu golongan tidak ada bedanya dari golongan yang lainnya, dan satu
keturunan tidak ada bedanya dari keturunan yang lainnya, inilah dasar pertama
pembentuk prinsip persamaan.
Selain dari
ayat di atas terdapat hadis yang menjelaskan prinsip persamman diantara
manusia, secara tegas dan jelas tersurat dalam sabda Rasulullah SAW yang
disampaikan dalam pidatonya yang sangat monumental pada waktu haji wada’ (haji
perpisahan) di mana beliau bersabda,
“Wahai
segenap manusia, sesungguhnya tuhan itu Satu (Esa) dan bapakmu itu satu. Dan
bapakmu itu satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah.
Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara
kamu sekalian. Tidak ada keutamaan (kelebihan) orang Arab atas orang Ajam (non
Arab) kecuali karena ketakwaan. Ingatlah, apakah akau telah menyampaikannya?
Maka mereka menjawab “ya benar”. Selanjutnya rasulullah bersabda, ‘hendaknya
orang yang hadir di antara kamu menyampaikan (hal ini)kepada orang yang tidak
hadir”.
Makna yang terkandung dalam khutbah tersebut di atas sejalan dengan makna
yang terkandung dalam nash-nash Al-Quran Al karim, di mana di dalamnya
disebutkan Tuhan Yang Maha Satu (Esa), bapak yang satu, dan menafikan pemilihan
kecuali atas dasar ketakwaan Rasululah SAW mempersaksikan sabdanya itu kepada para
audiensnya, sehingga mengakui bahwa hal itu benar-benar telah disampaikan oleh beliau. Selanjutnya
beliau memerintahkan kepada orang yang hadir (mendengarnya) di antara mereka
untuk menyampaikan kepada orang yang tidak hadir (tidak mendengarnya), bahwa
Rasulullah telah menyampaikan persoalan yang sangat penting, berkenaan dengan
pembentukan dan pembinaan masyarakat yang sehat. (Syaikh Muhammad Al Madani,
2002 : 73-80)
Menurut kitab Adda’
Watut Taammah Wa Tadzkiratil ‘Aammah karya sayyid Abdullah bin alawi
al-haddad membagi ke dalam delapan macam objek dakwah (golongan manusia)
Pertama : golongan
para ulama
Kedua : golongan
ahli zuhud dan ibadah
Ketiga : golongan
penguasa dan pemerintah
Keempat : golongan
kaum pedagang dan pegawai
Kelima : golongan
kaum lemah dan fakir miskin
Keenam : golongan
keluarga dan para hamba
Ketujuh : golongan
ahli taat dan durhaka dari orang-orang biasa (awam)
Kedelapan : golongan
orang yang tak mau menerima dakwah allah dan
Rosul-Nya. (Sayyid Abdullah al-Haddad, 2001: 13)
C.
Unsur-Unsur
Stratifikasi
Dalam
stratifikasi sosial terdapat dua unsur pokok, yaitu status (kedudukan) dan
peranan. Status dan peranan mempunyai hubungan timbal balik yang merupakan
unsur penentu bagi penempatan sesorang dalam strata tertentu dalam masyarakat.
Kedudukan dapat memberikan pengaruh, kehormatan, kewibawaan pada seseorang;
sedangkan peranan merupakan sikap tindak seseeorang yang menyandang status
dalam kehidupan masyarakat.
1.
Status sosial
Menurut
mayor polak (1979), status dimaksudkan sebagai kedudukan sosial seorang oknum
dalam kelompok serta dalam masyarakat, status mempunyai dua aspek, pertama;
aspek yang agak stabil, dan kedua aspeknya yang lebih dinamis. Polak mengatakan
bahwa status mempunyai aspek struktural dan aspek fungsional. Pada aspek yang
pertama sifatnya hirarkis, artinya mengandung
perbandingan tinggi atau rendahnya secara relatif terhadap status-status
lain. Sedangkan aspek yang kedua dimaksudkan sebagai peranan sosial (social role)
yang berkaitan dengan status tertentu, yang dimiliki oleh seseorang.
Dalam kehidupan
kelompok masyarakat sesorang senantiasa
memliki suatu status sosial, yaitu merupakan kedudukan individu dalam
pergaulan hidup manusia dalam masyarakat.
Status sosial dapat dibedakan atas dua macam menurut proses
perkembanganya, yaitu sebagi berikut:
a)
Status yang
diperoleh atas dasar keturunan
(ascribed-status). Pada umuknya status ini banyak dijumpai pada
masyarakat-masyarakat feodal atau masayarakat yang menganut paham rasialisme.
b)
Status yang
diperoleh atas dasar usaha yang disengaja (achieved- status), status ini dalam
perolehanya berbeda dengan status atas dasar kelahiran, kodrat atau keturunan;
status ini bersifat lebih terbuka, yaitu atas dasar cita-cita yang direncanakan
dan diperhitungkan dengan matang.
2.
Peranan sosial
Peranan sosial adalah suatu perbuatan seseorang dengan cara
tertentu dalam usaha menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang
dimilikinya. Seseorang dapat dikatakan berperanan jika ia telah melaksanakan
hak dan kewajiban sesuai dengan status sosialnya dalam masyarakat. Jika
seseorang mempunyai status tertentu dalam kehidupan masyarakat, maka
selanjutnya ada kecenderungan akan timbul suatu harapan-harapan baru. Oleh
karena itu pernanan dapat juga didefinisikan sebagai kumpulan harapan yang
terencana seseorang yang mempunyai status tertentu dalam masyarakat. Dengan
singkat peranan dapat dikatakan sebagai sikap dan tindakan seseorang sesuai
dengan statusnya dalam masyarakat. Atas dasar definisi tersebut maka peranan
dalamkehidupan masyarakat adalah sebagai aspek dinamis dari status.
Menurut levinson, bahwa peranan itu mencakup tiga hal, yaitu:
pertama; pernan meliputi norma-norma yang dihbungkan dengan posisi atau tempat
seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam artu ini merupakan rangkaian
peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
Kedua; pernanan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh
individu dalam masyarakat sebagai organisai, ketiga; pernanan juga dapat
dikatakan sebagai perikelakuan individu yang penting bagi struktur sosial
masyarakat. (Abdul syani. 1994: 91-95)
D. Konsekuensi Stratifikasi Sosial
Perbedaan tingkat pendidikan, kekayaan, status atau perbedaan kelas sosial
tidak Cuma memengaruhi perbedaan dalam hal gaya hidup dan tidakan, tetapi seperti yang ditulis Harton dan Hunt juga
menimbulkan sejumlah perbedaan dalam
berbagai aspek kehidupan manusia , sepertipeluang hidup dan kesehatan, peluang
bekerja dan berusaha, respons terhadap perubahan, pola sosialisasi dalam
keluarga, dan perilaku politik.
Berikut konsekuensi stratifikasi sosial :
a. Gaya Hidup
Gaya hidup (life style) yang ditampilkan
antara kelas sosial satu dengan kelas sosial yang lain dalam banyak hal tidak
sama, bahkan ada kecenderungan masing-masing kelas mencoba mengembangkan gaya
hidup yang eksklusif untuk membedakan dirinya dengan kelas yang lain. Berbeda
dengan kelas sosial rendah yang umumnya bersikap konservatif di bidang
agama,moralitas, selera makanan, cara baru perawatan kesehatan, cara mendidik
anak, dan hal-hal lainnya, gaya hidup dan penampilan kelas sosial menengah dan
atas umumnya lebih atratif dan eksklusif. Mulai dari tutur kata, cara
berpakaian, pilihan hiburan, pemanfaatan waktu luang, pola berlibur, dan
sebagainya, antara kelas satu dengan kelas yang lain umumnya tidak sama.
Sebuah keluarga yang berasal dari kelas atas,
mereka biasanya akan cenderung memilih berlibur ke luar negeri. Untuk keluarga
yang berasal dari kelas menengah, tempat untyuk berlibur biasanya tidak diluar
negeri tetapi cukup di Bali, Lombok, Jogjakarta dll. Sedangkan untuk keluarga
kelas bawah biasanya mereka beribur di kota-kota terdekat yang hawanya sejuk.
Di kalangan keluarga yang benar benar miskin, mereka bahkan hanya mengisi waktu
luang dengan menikmati tontonan tellevisi di rumah, atau sesekali pergi ke
kebun binatang.
Sebagian orang kelas sosial bawah, memang
terkadang mereka mencoba meniru atribut yang dikenakan gaya hidup kelas sosial
diatasnya.
b. Peluang Hidup dan Kesehatan
Berbagai kajian yang dilakukan ahli sosiologi
dan kependudukan telah banyak menemukan kaitann antara stratifikasi sosial
dengan peluang hidup dan kesehatan keluarga. Misalnya, ditemukan bahwa keluarga
yang miskin, tidak berpendidikan, dan rentan, mereka umumnya lemah jasmani dan
mudah terserang penyakit.
Dikalangan kaum ibu yang tidak berpendidikan,
terjadinya kematian bayi relatif lebih tinggi, karena tinggi rendahnya
pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat pengertiannya dalam kesehatan
keluarga. Sekurang-kurangnya ada dua faktor yang berinteraksi untuk
menghahsilkan hubungan antara kelas sosial dengan kesehatan. Pertama, para
anggota kelas sosial lebih tinggibiasanya menikamati sanitas, tindakan tindakan
pencegahan serta perawatan medis yang lebih baik. Kedua, orang orang yang
mengidap penyakit kronis, status sosialnya lebih meluncur ke bawah dan sulit
mengalami mobilitas vertikal karena penyakitnya menghalangi mereka untuk
memperoleh dan mempertahankan berbagai pekerjaan.
c. Respons Terhadap Perubahan
Setiap kali terjadi proses perubahan, sudah barang
tentu membutuhkan proses adaptasi, dan bahkan respon yang tepat dari warga
masyarakat yang tengah berubah itu.
Berbeda dengan orang-orang yanng berpendidikan dan berasal dari kelas
atas, bahwa kelas sosial yang rendah sering kali merupakan kelompok yang paling
terlambat menerapkan kecenderungan baru, khususnya dalam cara pengambilan
keputusan. Orang-orang kelas sosial yg rendah umumnya ragu-ragu untuk menerima
pemikiran dan cara-cara baruserta curiga pada pencipta hal-hal baru.
Terbatasnya penddikan, kebiasaan membaca, dan
pergaulan mengakibatkan banyak orang-orang sosial rendah itu tidak mengetahui
latar belakang pemikiran yang mendasari berbagai progam perubahan yang
ditawarkan.
Kelas sosial atas dimana sebagian besar
berpendidikan relatf memadai, cenderung lebih responsif terhadap ide-ide baru,
sehingga acapkali mereka lebih sering bisa memetik manfaat dengan cepat atas
progam baru atau inovasi yang diketahuiya.
d. Peluang Bekerja dan Berusaha
Peluang bekerja dan berusaha antara kelas
sosial rendah dengan kelas sosial di atasnya umumnya jauh berbeda. Dengan
koneksi, kekuasaan, tingkat pendidikan yang tinggi, dan uang yang dimiliki,
kelas sosial atas relatif lebih mudah membuka usaha atau mencari pekerjaan yang
sesuai dengan minatnya.
Ketidakberdayaan dan jauhnya kemungkinan
golongan masyarakat miskin untuk memiliki akses terhadap kekuasaan dalam banyak
hal telah menyebabkan posisi mereka tetap rentan dan sulit untuk berkembang.
e. Kebahagiaan dan sosialisasi dalam Keluarga
Kebahagiaan tidak dipengaruhi oleh ada atau
tidaknya cacat tubuh. Tidak pula dipengaruhi oleh faktor usia. Dari semua
faktor yang diteliti, kelas sosiallah yang tampak kaitannya memiliki kaita
paling erat. Orang-orang umumnya lebih mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka,
sehingga lebih berkemungkinan untuk merasa bahagia daripada orang-orang yang
kurang berada.
Perselisihan dan terjadinya tindak kekerasan
di antara anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya di kalangan keluarga
yang berada dalam banyak hal relatif kecil.
Dalam keluarga keluarga yang tidak asing
dengan tindak kekerasan, pihak yang biasanya paling banyak menjadi korban
adalah anak yang tidak diharapkan, seperti anak haram, anak tiri, dll. Dalam
hal ini, anak seolah-olah menjadi objek pelampiasan dari ketidakmampuan
orangtua memenuhi kebutuhan ekonomi dan meraih hal-hal lain yang diinginkan.
f. Perilaku Politik
Semakin tinggi kelas sosial semakin cenderug
sang individu mendaftarkan diri sebagai pemilih, memberikan suara, tertarik
pada politik, membahas soal-soal politik, menjadi anggota organisasi yang
mempunyai arti penting secara politis, dan berusaha mempengaruhi pandangan
politik orang lain.
Intensitas keterlibatan orang-orang
berpendidikan dalam berbagai perkembangan informasi yang disebarluaskan media
masa adalah salah satu faktor yang menyebabkan orang-orang yang berpendidikan
bisa mengikuti diskusi masalah politik atau bahkan ikut bermain di dalamnya.
(J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto., 2010:182-190)
E.
Strategi dakwah
pada masyarakat yang terstratifikasi
Al bayanuni membagi setrategi dakwah dalam tiga bentuk (1993,
204-219) yaitu
1.
Strategi
sentimentil (al manhaj al-athifi)
2.
Strategi
rasional (al manhaj al-aqli)
3.
Strategi
indrawi (al manhaj al-bissi)
Strategi sentimentil (al manhaj al-athifi) adalah dakwah yang memfokuskan
aspek hati, menggerakkan perasaan dan batin mitra dakwah memberi mitra dakwah
nasihat yang mengesankan, memanggil dengan kelembutan atau memberikan pelayanan
yang memuaskan merupakan beberapa metode yang dikembangkan dalam strategi ini.
metode metode ini sesuai dengan mitra dakwah yang terpinggirkan (marjinal) dan
dianggap lemah seperti kaum perampuan, anak-anak, orang yang masih awam, para
muallaf (imannya lemah), orang oranng miskin anak-anak yatim dan sebagainya
Strategi
rasional (al manhaj al-aqli) adalah dakwah dengan beberapa metode yang
memfokuskan pada aspek akal pikiran. Strategi ini mendorong mitra untuk
berpikir, merenungkan dan mengambil pelajaran. Penggunaan hukum logika, diskusi
atau penampilan contoh dan bukti sejarah merupakan beberapa metode dari
strategi rasional.
Strategi
indrawi (al manhaj al-bissi) juga dapat dinamakan strategi eksperimen
atau strategi imiah. Ia didefinisikan sebagai system dakwah atau kumpulan
metode dakwah yang berorientasi pada panca indra dan berpegang teguh pada hasil
penelitian dan percobaan, di antara metode yang dihimpun oleh strategi ini
adalah praktik keagamaan, keteladanan dan pentas drama, seperti yang dilakukan
penulis produktif dari Turki yang memakai nama pena Harun Yahya, menggunakan
strategi ini dalam menyampaikan dakwahnya, M. Quraish Shihab, pakar tafsir
kenamaan dari Indonesia juga sering menguraikan hasil penemuan ilmiah saat
menjelaskan ayat-ayat Al-Quran (Moh.ali aziz. 2004 :351-353)
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dakwah juga
dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk memotivasi orang dengan basirah, supaya menempuh jalan Allah SWT
dan meninggikan agamanya. Tantangan dalam berdakwah juga terjadi ketika kita
menghadapi masyarakat yang terstratifikasi, Dalam kehidupan masyarakat biasanya
selalu terdapat perbedaan status antara orang satu dengan yang lainya, antara
kelompok satu dengan kelompok lainya. Menurut
konsep status sosial, bahwa didalam sekelompok masyarakat tertentu pasti di
dalamnya terdapat beberapa orang yang lebih dihormati daripada orang lainya. Namun islam menjelaskan bahwa Semua manusia diletakkan pada posisi yang sama
secara alami jika dinisbatkan kepada tuhan yang maha pencipta dan yang berhak
disembah. Peletakan yang demikian telah memposisikan manusia pada posisi yang
sama, di mana seseorang diantara mereka tidak ada bedanaya dari yang lainnya,
suatu bangsa tidak ada bedanya dari bangsa yang lainnya, suatu golongan tidak
ada bedanya dari golongan yang lainnya, dan satu keturunan tidak ada bedanya dari
keturunan yang lainnya kecuali dilihat dari ketakwaannya. Al bayanuni membagi setrategi dakwah dalam tiga bentuk (1993,
204-219) yaitu :Strategi sentimentil (al manhaj al-athifi), Strategi
rasional (al manhaj al-aqli), Strategi
indrawi (al manhaj al-bissi)
assalamualaikum
BalasHapusmaaf mas/mba, ada daftar pustakannya ga?